Bangunan bersejarah di jakarta – Jakarta, ibukota Indonesia, menyimpan kekayaan sejarah yang terukir dalam bentuk bangunan-bangunan bersejarah yang menawan. Dari era kolonial hingga masa kemerdekaan, kota ini telah menjadi saksi bisu perjalanan panjang bangsa Indonesia. Bangunan-bangunan ini bukan hanya sekadar struktur fisik, tetapi juga cerminan budaya, arsitektur, dan perkembangan zaman yang telah membentuk wajah Jakarta hingga saat ini.
Melalui arsitektur yang unik, ornamen yang rumit, dan lokasi yang strategis, bangunan bersejarah di Jakarta membawa kita kembali ke masa lampau, mengingatkan kita tentang masa kejayaan dan perjuangan bangsa. Dari Benteng Batavia yang kokoh hingga Masjid Istiqlal yang megah, setiap bangunan menyimpan kisah dan nilai sejarah yang tak ternilai.
Sejarah Bangunan Bersejarah di Jakarta

Jakarta, sebagai ibu kota Indonesia, memiliki kekayaan sejarah yang terukir dalam arsitektur bangunan bersejarahnya. Bangunan-bangunan ini bukan sekadar struktur fisik, tetapi juga cerminan dari masa lalu, menyimpan kisah tentang peradaban, budaya, dan perjalanan kota ini.
Jakarta menyimpan banyak bangunan bersejarah yang menawan, seperti Gedung Kesenian Jakarta dan Museum Nasional. Namun, sebelum kita bisa menikmati keindahan arsitektur masa lalu, kita harus ingat bahwa pembangunan sebuah bangunan, seperti bangunan rumah belum jadi , membutuhkan waktu dan proses yang panjang.
Membangun rumah layaknya membangun sejarah, membutuhkan pondasi yang kuat dan perencanaan yang matang agar dapat berdiri kokoh dan menjadi saksi bisu perjalanan waktu, seperti bangunan-bangunan bersejarah di Jakarta.
Latar Belakang Berdirinya Bangunan Bersejarah di Jakarta
Perjalanan Jakarta dimulai dari sebuah pelabuhan kecil bernama Sunda Kelapa yang berkembang menjadi pusat perdagangan. Seiring waktu, Jakarta mengalami berbagai perubahan, mulai dari kekuasaan kerajaan Sunda, pengaruh Portugis, Belanda, hingga menjadi ibu kota Indonesia. Setiap masa meninggalkan jejaknya dalam bentuk bangunan yang unik, mencerminkan gaya arsitektur dan budaya yang mendominasi saat itu.
Jakarta menyimpan banyak bangunan bersejarah yang menawan, mulai dari Masjid Istiqlal hingga Gedung Kesenian Jakarta. Membayangkan luas bangunan-bangunan ini mungkin membuat kita penasaran. Nah, untuk menghitung luas bangunan sendiri, kamu bisa menggunakan rumus sederhana, seperti yang dijelaskan di cara menghitung luas bangunan rumah.
Memahami cara menghitung luas bangunan bisa membantu kita lebih menghargai arsitektur dan detail bangunan bersejarah di Jakarta.
Pengaruh Budaya dan Arsitektur pada Bangunan Bersejarah di Jakarta
Keberagaman budaya yang menjejakkan kakinya di Jakarta meninggalkan warisan arsitektur yang kaya. Bangunan-bangunan bersejarah di Jakarta mencerminkan pengaruh budaya dan arsitektur dari berbagai bangsa, antara lain:
- Arsitektur Tradisional Jawa: Bangunan-bangunan seperti Keraton Jakarta (Istana Jakarta) dan Masjid Jami’ Jakarta, menunjukkan pengaruh arsitektur tradisional Jawa yang kental dengan ukiran kayu, atap joglo, dan ornamen khas Jawa.
- Arsitektur Portugis: Periode Portugis meninggalkan jejak berupa benteng dan gereja, seperti Benteng Sunda Kelapa dan Gereja Tua di Batavia. Arsitektur Portugis ditandai dengan penggunaan batu bata, lengkungan, dan ornamen khas Eropa.
- Arsitektur Belanda: Periode kolonial Belanda mewarnai arsitektur Jakarta dengan bangunan-bangunan berkonsep klasik dan modern, seperti Gedung Kesenian Jakarta, Museum Nasional, dan Stasiun Gambir. Arsitektur Belanda dicirikan oleh penggunaan batu bata, bentuk simetris, dan ornamen yang elegan.
- Arsitektur Tionghoa: Pengaruh budaya Tionghoa juga terlihat pada beberapa bangunan bersejarah, seperti Klenteng Toa Se Bio dan Pecinan Jakarta. Arsitektur Tionghoa dikenal dengan ornamen khas Tiongkok, penggunaan warna merah dan emas, dan bentuk atap yang unik.
Periode Pembangunan Bangunan Bersejarah di Jakarta
Periode pembangunan bangunan bersejarah di Jakarta erat kaitannya dengan kondisi politik dan sosial saat itu. Berikut adalah beberapa periode penting:
- Masa Kerajaan Sunda (abad ke-15): Periode ini ditandai dengan pembangunan Keraton Jakarta (Istana Jakarta) sebagai pusat pemerintahan kerajaan Sunda. Bangunan ini mencerminkan arsitektur tradisional Jawa yang megah dan penuh simbolisme.
- Masa Portugis (abad ke-16): Portugis membangun benteng dan gereja untuk memperkuat posisinya di Jakarta. Benteng Sunda Kelapa dan Gereja Tua di Batavia menjadi bukti kehadiran Portugis di kota ini.
- Masa Belanda (abad ke-17- 19) : Pada masa kolonial Belanda, Jakarta mengalami pembangunan besar-besaran. Berbagai bangunan penting dibangun, seperti Gedung Kesenian Jakarta, Museum Nasional, dan Stasiun Gambir, yang mencerminkan arsitektur klasik dan modern Belanda.
- Masa Kemerdekaan Indonesia (abad ke-20): Setelah kemerdekaan, Indonesia membangun berbagai bangunan modern yang mencerminkan semangat nasionalisme dan kebangkitan bangsa, seperti Gedung DPR/MPR, Monumen Nasional (Monas), dan Istana Merdeka.
Daftar Bangunan Bersejarah di Jakarta
Jakarta memiliki banyak bangunan bersejarah yang tersebar di berbagai wilayah. Berikut adalah beberapa contoh bangunan bersejarah di Jakarta beserta tahun pembangunan dan arsitektur yang digunakan:
| Nama Bangunan | Tahun Pembangunan | Arsitektur |
|---|---|---|
| Keraton Jakarta (Istana Jakarta) | Abad ke-15 | Arsitektur Tradisional Jawa |
| Benteng Sunda Kelapa | Abad ke-16 | Arsitektur Portugis |
| Gereja Tua di Batavia | Abad ke-17 | Arsitektur Portugis |
| Gedung Kesenian Jakarta | 1869 | Arsitektur Belanda |
| Museum Nasional | 1862 | Arsitektur Belanda |
| Stasiun Gambir | 1871 | Arsitektur Belanda |
| Klenteng Toa Se Bio | Abad ke-17 | Arsitektur Tionghoa |
| Gedung DPR/MPR | 1965 | Arsitektur Modern |
| Monumen Nasional (Monas) | 1961 | Arsitektur Modern |
| Istana Merdeka | 1949 | Arsitektur Modern |
Lokasi dan Aksesibilitas Bangunan Bersejarah

Jakarta, sebagai ibukota Indonesia, menyimpan banyak bangunan bersejarah yang merupakan saksi bisu perjalanan panjang kota ini. Bangunan-bangunan ini tersebar di berbagai wilayah administratif, menawarkan kesempatan bagi warga dan wisatawan untuk menjelajahi jejak masa lampau.
Lokasi Bangunan Bersejarah di Jakarta
Bangunan bersejarah di Jakarta dapat ditemukan di berbagai wilayah, mulai dari pusat kota hingga pinggiran. Berikut adalah beberapa contoh bangunan bersejarah yang tersebar di wilayah Jakarta:
- Jakarta Pusat:Monumen Nasional (Monas), Masjid Istiqlal, Gereja Katedral, Gedung Bank Indonesia, Museum Nasional, dan Gedung Kementerian Luar Negeri.
- Jakarta Barat:Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, Museum Bank Indonesia, dan Gedung Balai Kota.
- Jakarta Selatan:Museum Satria Mandala, Museum Purna Bhakti Pertiwi, dan Museum Nasional Indonesia.
- Jakarta Timur:Museum Taman Mini Indonesia Indah, Museum Keramik, dan Museum Tekstil.
- Jakarta Utara:Museum Bahari, Museum Sunda Kelapa, dan Museum Kota Tua.
Peta Lokasi Bangunan Bersejarah
Untuk mempermudah pencarian, peta interaktif dapat digunakan untuk menunjukkan lokasi bangunan bersejarah di Jakarta. Peta ini dapat menampilkan berbagai informasi seperti nama bangunan, alamat, dan jenis bangunan.
Aksesibilitas Menuju Bangunan Bersejarah
Aksesibilitas menuju bangunan bersejarah di Jakarta umumnya cukup baik, dengan berbagai pilihan transportasi umum dan fasilitas pendukung.
- Transportasi Umum:Sebagian besar bangunan bersejarah di Jakarta dapat diakses dengan menggunakan transportasi umum seperti Transjakarta, MRT, dan KRL. Beberapa bangunan bahkan memiliki halte atau stasiun yang berdekatan.
- Fasilitas Pendukung:Di sekitar bangunan bersejarah, terdapat berbagai fasilitas pendukung seperti tempat parkir, toilet umum, dan warung makan.
Upaya Pelestarian dan Pengembangan Aksesibilitas
Pemerintah dan berbagai pihak terkait terus berupaya untuk melestarikan dan mengembangkan aksesibilitas menuju bangunan bersejarah di Jakarta. Upaya ini meliputi:
- Peningkatan Transportasi Umum:Peningkatan infrastruktur transportasi umum seperti pembangunan jalur Transjakarta dan MRT, serta pengembangan rute KRL, bertujuan untuk memudahkan akses menuju lokasi bangunan bersejarah.
- Peningkatan Fasilitas Pendukung:Pembangunan fasilitas pendukung seperti tempat parkir, toilet umum, dan rambu-rambu jalan, serta penataan lingkungan sekitar bangunan bersejarah, bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung.
- Sosialisasi dan Edukasi:Sosialisasi dan edukasi mengenai pentingnya pelestarian bangunan bersejarah, serta program wisata sejarah, bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan minat wisatawan untuk mengunjungi bangunan bersejarah.
Arsitektur Bangunan Bersejarah

Jakarta, sebagai ibu kota Indonesia, memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang terukir dalam arsitektur bangunan bersejarahnya. Bangunan-bangunan ini tidak hanya menjadi saksi bisu perjalanan waktu, tetapi juga mencerminkan perpaduan pengaruh budaya dari berbagai masa, menjadikan Jakarta sebagai museum arsitektur hidup.
Gaya Arsitektur Bangunan Bersejarah di Jakarta
Berbagai gaya arsitektur telah menghiasi wajah Jakarta, mulai dari pengaruh kolonial Belanda hingga sentuhan arsitektur modern. Beberapa gaya arsitektur yang menonjol meliputi:
- Arsitektur Kolonial Belanda: Gaya arsitektur ini mendominasi bangunan-bangunan di masa penjajahan Belanda, dengan ciri khas penggunaan material seperti batu bata merah, kayu jati, dan atap genteng. Contohnya adalah Gedung Bank Indonesia, yang memiliki arsitektur neo-klasik dengan kolom-kolom tinggi dan ornamen-ornamen yang rumit.
- Arsitektur Art Deco: Gaya arsitektur ini berkembang pada awal abad ke-20, ditandai dengan bentuk-bentuk geometris, garis-garis lurus, dan penggunaan material seperti baja dan kaca. Gedung Bioskop Metropole merupakan contoh bangunan dengan gaya Art Deco, dengan fasad yang unik dan ornamen-ornamen geometris.
- Arsitektur Modern: Gaya arsitektur ini muncul setelah Perang Dunia II, menekankan fungsionalitas, kesederhanaan, dan penggunaan material modern seperti beton dan kaca. Gedung Sarinah merupakan contoh bangunan dengan gaya arsitektur modern, dengan bentuknya yang simpel dan penggunaan kaca yang luas.
- Arsitektur Tradisional Jawa: Meskipun pengaruh kolonial Belanda kuat, Jakarta juga memiliki bangunan bersejarah dengan gaya arsitektur tradisional Jawa. Masjid Istiqlal, misalnya, memadukan elemen-elemen arsitektur Jawa seperti atap joglo dengan sentuhan modern.
Ciri Khas Arsitektur Bangunan Bersejarah di Jakarta
Bangunan bersejarah di Jakarta memiliki ciri khas yang membedakannya dari bangunan lainnya. Ciri-ciri ini meliputi:
- Penggunaan Material: Material yang sering digunakan pada bangunan bersejarah di Jakarta adalah batu bata merah, kayu jati, dan genteng. Material-material ini memberikan kesan kokoh, elegan, dan tahan lama. Selain itu, penggunaan batu bata merah juga mencerminkan pengaruh kolonial Belanda, sementara kayu jati merupakan material khas Indonesia yang memiliki nilai seni tinggi.
- Ornamen: Ornamen-ornamen pada bangunan bersejarah di Jakarta sangat beragam, mulai dari ukiran kayu, relief batu, hingga ornamen geometris. Ornamen-ornamen ini tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi, tetapi juga mengandung makna simbolis. Misalnya, ukiran kayu pada bangunan tradisional Jawa seringkali menggambarkan cerita rakyat atau filosofi hidup.
- Tata Ruang: Tata ruang pada bangunan bersejarah di Jakarta umumnya mengikuti prinsip-prinsip arsitektur klasik, dengan penekanan pada kesimetrisan, proporsi, dan hierarki ruang. Bangunan-bangunan ini biasanya memiliki ruang-ruang yang luas dan tinggi, dengan jendela-jendela besar yang memungkinkan pencahayaan alami masuk.
Perbandingan dan Kontras Gaya Arsitektur Bangunan Bersejarah di Jakarta dengan Daerah Lain di Indonesia
Gaya arsitektur bangunan bersejarah di Jakarta memiliki persamaan dan perbedaan dengan bangunan bersejarah di daerah lain di Indonesia. Persamaannya adalah penggunaan material lokal seperti kayu dan batu, serta adanya pengaruh budaya asing seperti kolonial Belanda dan Tiongkok. Namun, perbedaannya terletak pada dominasi gaya arsitektur kolonial Belanda di Jakarta, sementara di daerah lain seperti Bali, Sumatera Barat, dan Yogyakarta, pengaruh arsitektur tradisional lokal lebih kuat.
Contohnya, di Bali, bangunan bersejarah seperti Pura Uluwatu memiliki arsitektur tradisional Bali dengan atap meru dan ukiran-ukiran yang rumit. Di Sumatera Barat, rumah gadang dengan atap gonjong yang khas merupakan contoh arsitektur tradisional Minangkabau. Sementara di Yogyakarta, Keraton Yogyakarta memiliki arsitektur Jawa dengan atap joglo dan ukiran-ukiran yang halus.
Pengaruh Budaya dan Sejarah dalam Arsitektur Bangunan Bersejarah di Jakarta
Arsitektur bangunan bersejarah di Jakarta merupakan cerminan perpaduan budaya dan sejarah yang kompleks. Pengaruh kolonial Belanda sangat terasa dalam arsitektur bangunan-bangunan di masa penjajahan, seperti Gedung Bank Indonesia dan Gedung Kesenian Jakarta. Namun, pengaruh budaya lokal seperti Jawa dan Tiongkok juga tetap terjaga, tercermin dalam penggunaan material lokal dan ornamen-ornamen yang khas.
Selain itu, perkembangan arsitektur di Jakarta juga dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah, seperti Perang Dunia II dan kemerdekaan Indonesia. Bangunan-bangunan yang dibangun setelah Perang Dunia II, seperti Gedung Sarinah, mencerminkan semangat modernisme dan optimisme pada masa itu. Sementara bangunan-bangunan yang dibangun setelah kemerdekaan, seperti Masjid Istiqlal, mencerminkan identitas nasional dan semangat persatuan.
Fungsi Bangunan Bersejarah

Bangunan bersejarah di Jakarta bukan sekadar struktur tua yang menjulang tinggi di tengah kota. Mereka menyimpan kisah-kisah perjalanan waktu, saksi bisu perubahan yang terjadi di ibukota selama berabad-abad. Fungsi bangunan ini pun mengalami pasang surut, mengikuti dinamika zaman yang silih berganti.
Fungsi Awal Bangunan Bersejarah
Pada masa awal pembangunan Jakarta, bangunan bersejarah umumnya memiliki fungsi yang spesifik dan mencerminkan kebutuhan masyarakat saat itu. Berikut beberapa contohnya:
- Tempat Tinggal: Rumah-rumah tradisional seperti rumah joglo, rumah kebaya, dan rumah limasan menjadi tempat tinggal bagi penduduk Jakarta. Bangunan ini mencerminkan gaya arsitektur lokal dan disesuaikan dengan iklim tropis. Contohnya, Rumah Batavia yang dibangun pada abad ke-18, dulunya merupakan tempat tinggal para pejabat Belanda.
- Pusat Pemerintahan: Gedung-gedung pemerintahan seperti Balai Kota dan Istana Merdeka dibangun untuk menampung kegiatan administrasi dan politik. Bangunan ini memiliki desain yang megah dan monumental, mencerminkan kekuasaan dan prestise pemerintahan saat itu. Misalnya, Gedung Balai Kota yang dibangun pada tahun 1906, dulunya merupakan kantor pemerintahan Hindia Belanda.
- Tempat Ibadah: Masjid, gereja, dan klenteng dibangun untuk memenuhi kebutuhan spiritual masyarakat. Bangunan ini memiliki nilai religius dan budaya yang tinggi, mencerminkan toleransi dan keragaman budaya di Jakarta. Contohnya, Masjid Istiqlal yang dibangun pada tahun 1961, merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara.
Perubahan Fungsi Bangunan Bersejarah
Seiring berjalannya waktu, fungsi bangunan bersejarah di Jakarta mengalami perubahan. Beberapa bangunan yang awalnya digunakan sebagai tempat tinggal, kini menjadi museum, galeri seni, atau kantor. Misalnya, Museum Sejarah Jakarta yang dulunya merupakan rumah milik seorang saudagar Belanda. Perubahan fungsi ini menunjukkan adaptasi bangunan terhadap kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
Peran Bangunan Bersejarah dalam Perkembangan Sejarah dan Budaya Kota
Bangunan bersejarah memiliki peran penting dalam perkembangan sejarah dan budaya kota Jakarta. Mereka menyimpan informasi tentang kehidupan masyarakat di masa lampau, mulai dari arsitektur, teknologi, hingga nilai-nilai sosial yang berkembang. Sebagai contoh, Museum Fatahillah yang dulunya merupakan kantor pemerintahan Belanda, kini menjadi pusat informasi dan edukasi tentang sejarah Jakarta.
Selain itu, bangunan bersejarah juga menjadi ikon dan landmark kota, menarik wisatawan dan menjadi pusat kegiatan budaya. Contohnya, Pasar Baru yang dibangun pada abad ke-19, merupakan pusat perdagangan dan budaya di Jakarta.
“Bangunan bersejarah adalah cerminan masa lampau, yang mengingatkan kita tentang perjalanan panjang kota Jakarta. Melestarikan bangunan ini berarti menjaga warisan budaya dan sejarah yang tak ternilai harganya.”
Jakarta menyimpan banyak bangunan bersejarah yang menceritakan kisah masa lalu. Dari bangunan kolonial hingga masjid kuno, setiap sudut kota ini menyimpan jejak sejarah. Tapi pernahkah kamu bertanya-tanya, manakah di antara bangunan candi peninggalan kerajaan Sriwijaya yang bisa kita temukan di Jakarta?
Meskipun Sriwijaya berpusat di Sumatera, jejaknya mungkin tertinggal di Jakarta. Mungkin saja, bangunan bersejarah di Jakarta menyimpan cerita tentang pengaruh Sriwijaya yang terlupakan.
(Nama Tokoh Penting)
Pentingnya Pelestarian Bangunan Bersejarah

Jakarta, sebagai ibukota Indonesia, memiliki banyak bangunan bersejarah yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang kota ini. Bangunan-bangunan ini bukan sekadar struktur fisik, melainkan menyimpan nilai budaya dan sejarah yang tak ternilai harganya. Pelestarian bangunan bersejarah di Jakarta bukan hanya soal menjaga warisan masa lampau, tetapi juga menjaga identitas dan karakter kota ini untuk generasi mendatang.
Menjaga Warisan Budaya dan Sejarah
Bangunan bersejarah di Jakarta merefleksikan beragam pengaruh budaya dan peradaban yang pernah singgah di kota ini. Dari arsitektur kolonial Belanda hingga gaya arsitektur modern, setiap bangunan memiliki cerita dan nilai estetika yang unik. Pelestarian bangunan-bangunan ini menjadi upaya untuk menjaga kelestarian warisan budaya dan sejarah yang tak ternilai harganya.
Dengan menjaga keberadaan bangunan bersejarah, kita dapat belajar dari masa lalu, memahami akar budaya, dan membangun identitas kota yang kuat.
Tantangan Pelestarian Bangunan Bersejarah
Upaya pelestarian bangunan bersejarah di Jakarta menghadapi sejumlah tantangan. Kerusakan akibat faktor alam seperti gempa bumi, banjir, dan abrasi merupakan ancaman serius. Modernisasi kota yang pesat juga menjadi tantangan, di mana bangunan bersejarah terkadang tergusur oleh pembangunan modern. Kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian bangunan bersejarah juga menjadi faktor penghambat.
Upaya Pelestarian Bangunan Bersejarah
Berbagai upaya dilakukan untuk melestarikan bangunan bersejarah di Jakarta. Restorasi dilakukan untuk memperbaiki kerusakan dan mengembalikan bangunan ke kondisi aslinya. Revitalisasi dilakukan untuk mengubah fungsi bangunan tanpa menghilangkan nilai sejarahnya. Edukasi kepada masyarakat juga penting untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pelestarian bangunan bersejarah.
Melalui berbagai program edukasi, diharapkan masyarakat dapat memahami nilai historis dan budaya dari bangunan-bangunan bersejarah.
Ilustrasi Kondisi Bangunan Bersejarah Sebelum dan Sesudah Pelestarian
Sebagai contoh, Gedung Kesenian Jakarta, yang dibangun pada tahun 1928, dulunya mengalami kerusakan akibat usia dan kurangnya perawatan. Setelah direstorasi dan direvitalisasi, Gedung Kesenian Jakarta kini kembali menjadi pusat seni dan budaya yang ramai dikunjungi. Bangunan bersejarah ini, yang dulunya tampak kusam dan terbengkalai, kini tampil menawan dengan arsitektur klasik yang terjaga dengan baik.
Perubahan ini merupakan bukti nyata bahwa pelestarian bangunan bersejarah dapat menghidupkan kembali warisan budaya dan sejarah kota.
Pemungkas

Menelusuri jejak sejarah melalui bangunan bersejarah di Jakarta adalah pengalaman yang menggugah jiwa. Bangunan-bangunan ini tidak hanya menjadi bukti fisik masa lalu, tetapi juga inspirasi bagi generasi mendatang untuk terus menjaga dan mewariskan nilai-nilai luhur bangsa. Dengan memahami sejarah dan melestarikan warisan budaya, kita dapat membangun masa depan yang lebih baik.
Pertanyaan Umum (FAQ): Bangunan Bersejarah Di Jakarta
Bagaimana cara mengunjungi bangunan bersejarah di Jakarta?
Sebagian besar bangunan bersejarah di Jakarta dapat dikunjungi dengan mudah. Anda dapat menggunakan transportasi umum seperti bus TransJakarta, MRT, atau kereta api. Beberapa bangunan juga menyediakan layanan tur berpemandu.
Apakah semua bangunan bersejarah di Jakarta terbuka untuk umum?
Tidak semua bangunan bersejarah di Jakarta terbuka untuk umum. Beberapa bangunan mungkin berfungsi sebagai kantor pemerintahan, sekolah, atau museum. Anda dapat mencari informasi lebih lanjut tentang jam buka dan aksesibilitas melalui situs web resmi atau menghubungi pengelola bangunan.

